Tinggalkan komentar

Kajian Fiqh Pemilu dalam Tinjauan Syariah – Ustadz Pahrul

Bagaimana tinjauan syari’ah terhadap kaum Muslim yang turut terlibat sebagai pemilih, memberikan suara dalam proses pemilihan umum, baik dalam pemilihan anggota-anggota perwakilan rakyat maupun kepala Negara ?

Di dalam pertanyaan di atas terkandung dua topik yang berbeda, yaitu : 1.Memilih anggota-anggota wakil rakyat, dan 2.Memilih kepala negara.

Pemilu merupakan (akad) wakalah (perwakilan). Agar akad wakalah sempurna maka rukun-rukunnya harus dipenuhi sehingga akadnya sahih, yaitu : 1.Adanya ijab qabul, 2.Pihak yang mewakilkan (muwakkil), 3.Pihak yang mewakili (wakil), 4.Perkara yang diwakilkan, 5.Bentuk redaksi akad perwakilannya (shigat tawkil).

Untuk mengetahui hukum syariat dalam masalah ini, wajib sebelum segala sesuatunya, untuk melakukan tahqiq manath (mengetahui fakta tentang obyek diterapkannya hukum) atas perkara tersebut. Manath dalam perkara ini adalah pemilihan anggota majelis legislatif (al-majlis at-tasyri) atau yang biasa dikenal dengan majelis perwakilan (majlis an-nuwab), aktivitas yang biasanya dilakukan oleh majelis ini serta wewenang-wewenangnya. Disinilah  ditetapkan hukum syariah Islam atas perkara ini. Begitu pula manath dalam perkara yang kedua, yaitu pemilihan kepala negara yang mengharuskan mengetahui apa yang menjadi tugas dan kewajiban kepala negara. Dari situ barulah dapat ditentukan hukumnya. Simak pembahasan lengkapnya yang disampaikan oleh Ustadz Pahrul, SHI, di Kajian Fiqih LD AMBH (Angkatan Muda Baitul Hikmah) Unlam berikut ini.

Download (MP3, 15MB)
Makalah 1
Makalah 2

Tinggalkan komentar

Legislasi Demokrasi VS Islam (Bedah Buletin Al-Islam) Ust. Nur Widianto

Legislasi adalah proses pengesahan hukum untuk dipakai dalam mengatur urusan-urusan negara. Banyak orang yang begitu IMG-20140321-WA0003tergesa-gesa mengatakan bahwa demokrasi sesuai dengan Islam. Lebih parah lagi mereka mengatakan, demokrasi itu Islami. Padahal jelas sekali perbedaan antara keduanya bagaikan siang dan malam. Untuk itulah, Buletin Al-Islam edisi 698 mengangkat pembahasan tersebut. Isi buletin tersebut juga telah dibedah oleh Ust.Nur Widianto (Lajnah Fa’aliyah DPD HTI DIY) di agenda pekanan Bedah Buletin Al-Islam yang diselenggarakan di Masjid Al-Muhtar ISI Yogyakarta tanggal 21 Maret yang lalu. Untuk menyimaknya silakan download dari link INI (24MB, 52 menit)

Untuk isi lengkap Buletin Al-Islam edisi 698 dapat dilihat disini

Tinggalkan komentar

Pragmatisme Politik (Bedah Buletin Al-Islam 697)

handokoPragmatisme Politik – Menistakan Politik DOWNLOAD.mp3 Pragmatisme adalah falsafah yang menyatakan bahwa kebenaran dapat berubah sesuai fakta yang ada. Wajar jika kebenaran ini dapat berubah seiring berjalannya waktu. Yang dulunya kawan, hari ini jadi lawan. Dulunya teman sekarang beranteman. Ini contoh pragmatisme yang dilakukan oleh para politisi. Tetapi ternyata tindakan pragmatis ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang ada di tampuk kekuasaan. Pragmatisme masyarakatpun, jelang pemilu yang makin dekat ini semakin memprihatinkan. Terbukti sejumlah anggota DPR yang kembali maju menjadi caleg khawatir dengan hal ini. Ketua Fraksi PPP di MPR, Irgan Chairul Mahfiz, mengaku dirinya menyiapkan Rp1 miliar lebih untuk sosialisasi dirinya sebagai caleg di 2014. Dan itu pun masih kurang. Dia mengaku banyak dimintai uang oleh warga masyarakat. “Hal tersebut untuk kondisi pemilu 2014 kayaknya demikian. Masyarakat semakin pragmatis dan transaksional,” kata Irgan. (Beritasatu.com, 10/3) Kecenderungan perubahan pola pikir masyarakat pemilih dari idealis ke pragmatis seperti fenomena yang terjadi dalam pilkada dan pemilu, disinyalir karena reaksi atas kenyataan yang terjadi. Kasus korupsi yang menjerat sejumlah wakil rakyat dan kepala daerah selama ini, baik di tingkat pusat, provinsi maupun di tingkat kabupaten, mengubah pola pikir masyarakat bahwa jabatan wakil rakyat itu diperebutkan untuk meraih kekayaan. Lanjutkan Membaca »

Tinggalkan komentar

TOXIC SUCCESS (Kesuksesan yang Beracun) – Ust. Nopriadi Hermani,Ph.D

 Kajian bersama Ustad Dr Nopriadi Hermani Phd :

Dahulu di jazirah Arab ada zaman jahiliyah / kebodohan kemudian diselamatkan oleh Rasulullah dengan Islam. Dan Islam kemudian sukses selam 1400 tahun menata dunia. Kemudian setelah itu muncul kebangkitan eropa dimana sebelum itu mereka mengalami zaman kegelapan. yaitu zaman teokrasi dimana umat eropa dikala itu dikekang oleh aturan-aturan gereja dan kerajaan. Kemudian muncullah zaman modern seperti sekarang ini atau yang juga dikenal dengan era-globalisasi atau kapitalisme.

Kapitalisme membuat seluruh tujuan hidup manusia berporos pada satu titik yaitu materi. Inilah yang semakin membuat kehidupan di bumi ini semakin beracun, ibaratkan api yang di sirami dengan minyak. Karenanya manusia berlomba-lomba menuju materi hal ini semakin menyuburkan sifat-sifat buruk manusia seperti serakah, pelit, sombong, dll. Sebagaimana nasehat Rasulullah yang berbunyi :

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti dia menginginkan yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi ronggaga dada anak Adam (memuaskan keinginan) kecuali tanah (kematian), dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat” (HR Bukhari, Muslim)

Ini sepertinya sejalan dengan pandangan umum kapitalisme tentang manusia menurut Adam Smith yang notabene bukanlah umat Rasulullah:

“Manusia akan selalu bertindak demi mengejar kepentingan rasional sendiri, atau setidaknya mengejar apa yang diprediksi akan menguntungkannya”

Seberapa sulitkah bagi kita di zaman sekarang ini menemukan orang yang sukses dari segi materi tapi tidak terceminkan rasa bahagia dalam kehidupannya? Mudah karena banyak sekali. contohnya artis-artis terkenal yang bayarannya sungguh tinggi menjulang namun kehidupannya sesungguhnya kerap kali menuai kontroversi dari kasus perceraian, narkoba, perselingkuhan, saling sikut, saling menjatuhkan, dll seolah-olah tiada ujungnya.

Atau seorang intelektual tangguh yang telah menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mendapatka keahlian tersebut. Kemudian ia dipekerjakan dengan bayaran ratusan juta namun dengan pekerjaannya itu dia menjadi sibuk dan tidak ada waktu lagi bagi dirinya sendiri walaupun materinya melimpah ia tidak bisa menikmati karena tuntutan kapitalisme. Maka tak jarang ketika para pelaku-pelaku yang sudah menggapai kesuksesan materinya. Seluruh kenikmatan di dunia pernah ia nikmati bekat meterinya hingga pada akhirnya ia mencapai titik kejenuhan dan stres seolah-olah materi itu tiada berguna sama sekali. Bahkan di jepang yang telah maju perkembangan ekonominya merupakan tempat yang tertinggi prosentase bunuh dirinya.

Kita bepayah-payah menghabiskan daya upaya hanya untuk materi yang hanya mampu kita bawa sekedar didunia saja tanpa pernah memikirkan tentang negeri akhirat. Hal ini diibaratkan dengan seorang raja yang sukses membangun istana megahnya namun ia letakkan di pinggir jurang yang sewaktu-waktu runtuh menjadi hancur tak berarti. Maka sangat tidak relevan bila kita hanya fokus pada usaha mencetak manusia yang mengabdi pada sukses materi. Apalagi kenyataanya banyak orang sukses yang hidupnya menderita. Semakin sukses, semakin menderita. Fenomena banyaknya orang sukses menderita ini terungkap dari hasil penelitian Dr. Paul Pearsall dalam bukunya Toxic Success (2002).

Untuk lebih jelasnya simak pemaparan Ustad Dr Nopriadi Hermani Phd dalam seri kajiannya “Toxic Sucses”. Dapat anda ikuti dalam rekaman berformat mp3 dengan meng-klik : DOWNLOAD.mp3

Tinggalkan komentar

3 Modal Utama Bagi Mahasiswa – Ust. Nopriadi Hermani, Ph.D

Tak terkecuali mahasiswa kita sesungguhnya hidup pada keadaan hiper kompetisi dalam sebuah peradaban yang disebut peradaban kapitalis. Kapitalisme ibaratkan sebuah samudra yang mampu menghentakkan siapa saja yang berada di ruang lingkupnya dengan kedahsyatan ombaknya. Sehingga barang siapa kehilangan arah maka ia akan terhempas, barang siapa yang tidak  mampu terus bertahan (survive) maka ia akan tenggelam. Inilah yang terjadi pada dunia kita saat ini lebih-lebih di dunia kerja. Dalam dunia kerja barang siapa yang tidak mampu bersaing maka ia akan segera didepak dan barang siapa yang tak memiliki arah tujuan yang jelas walaupun ia memiliki daya saing yang luar biasa ia tetap akan menjadi bawahan bagi yang lebih terarah. Untuk itu, bagi para mahasiswa agar kita tidak terhempas atau pun tenggelam maka ada tiga hal yang perlu kita miliki sebagai modal kita di dalam mengarungi samudra kapitalisme ini :

1.  Hard Skill
2. Soft Skill
3. Good Values

Hard skill adalah keterampilan, kemampuan, dalam salah satu bidang yang diminati atau digeluti. Soft skill adalah kemampuan bersinergi, berkomunikasi, kepemimpinan, dan  manajemen diri. Sedangkan  good values adalah penilaian yang baik dari orang lain atas diri kita dan good values itu sendiri tak lain adalah “Islam” . Ketiga unsur ini adalah hal yang tak terpisahkan yang wajib kita miliki bila ingin survive di samudra kapitalisme.

Untuk lebih jelasnya silahkan download kajian mengenai ini oleh Ustad Nopriadi Hermani Phd dalam bentuk rekaman mp3. Klik : Download.mp3

Tinggalkan komentar

Siapa Menolong Muslim Afrka Tengah? (Bedah Buletin Al-Islam 695)

( Buletin Al-Islam edisi 695 – 28 Februari 2014)
Untuk mendapatkan rekaman kajian bedah bulletin Al-Islam klik : Download.mp3 |

Website BBC, Senin 17/2/2014 melaporkan bahwa “pasukan Afrika di bawah Misi Bantuan Internasional untuk Republik Afrika Tengah berhasil mengevakuasi 2.000 orang muslim yang melarikan diri dari negerinya ke Kamerun. Mereka lari menyelamatkan diri dari serangan milisi Kristen. Koresponden BBC layanan Hausa yang menyertai tentara Rwanda mengatakan bahwa konvoi yang membawa para pengungsi diserang oleh milisi anti Balaka menggunakan senapan, tombak, panah, pisau, batu dan pedang”.
Dalam laporannya pada Rabu (12/2), Amnesty Internasional menyatakan telah mendokumentasi lebih dari 200 kasus pembunuh terhadap umat Islam yang dilakukan milisi Kristen.  Sejak Desember tahun lalu, setelah milisi Kristen melakukan serangan terkoordinasi lebih dari 1000 orang muslim terbunuh.Pembantaian ini dilakukan secara sadis yang tidak bisa dibayangkan oleh manusia normal.  Secara terbuka,pendukung milisi Kristen memakan daging seorang muslim yang mereka bunuh. Wanita-wanita muslimah juga diperkosa. Rumah-rumah dan masjid dibakar dan dihancurkan. Penyiksaan terhadap muslim dilakukan di jalan-jalan secara terbuka. Mereka melakukan kebiadaban ini dengan ini dengan wajah yang gembira dan penuh kesombongan.

“Muslim! Muslim! Muslim. Saya menusuknya di kepala. Saya menuangkan bensin padanya. Saya membakarnya. Lalu saya memakan kakinya, semuanya hingga ke tulang-tulangnya dengan roti. Itu sebabnya orang-orang memanggilku dengan sebutan Mad Dog (anjing gila), “, ujar Magloire dengan sombongnya.

Semoga Allah meRahmati kaum muslimin dimanapun mereka berada.