Tinggalkan komentar

Pragmatisme Politik (Bedah Buletin Al-Islam 697)

handokoPragmatisme Politik – Menistakan Politik DOWNLOAD.mp3 Pragmatisme adalah falsafah yang menyatakan bahwa kebenaran dapat berubah sesuai fakta yang ada. Wajar jika kebenaran ini dapat berubah seiring berjalannya waktu. Yang dulunya kawan, hari ini jadi lawan. Dulunya teman sekarang beranteman. Ini contoh pragmatisme yang dilakukan oleh para politisi. Tetapi ternyata tindakan pragmatis ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang ada di tampuk kekuasaan. Pragmatisme masyarakatpun, jelang pemilu yang makin dekat ini semakin memprihatinkan. Terbukti sejumlah anggota DPR yang kembali maju menjadi caleg khawatir dengan hal ini. Ketua Fraksi PPP di MPR, Irgan Chairul Mahfiz, mengaku dirinya menyiapkan Rp1 miliar lebih untuk sosialisasi dirinya sebagai caleg di 2014. Dan itu pun masih kurang. Dia mengaku banyak dimintai uang oleh warga masyarakat. “Hal tersebut untuk kondisi pemilu 2014 kayaknya demikian. Masyarakat semakin pragmatis dan transaksional,” kata Irgan. (Beritasatu.com, 10/3) Kecenderungan perubahan pola pikir masyarakat pemilih dari idealis ke pragmatis seperti fenomena yang terjadi dalam pilkada dan pemilu, disinyalir karena reaksi atas kenyataan yang terjadi. Kasus korupsi yang menjerat sejumlah wakil rakyat dan kepala daerah selama ini, baik di tingkat pusat, provinsi maupun di tingkat kabupaten, mengubah pola pikir masyarakat bahwa jabatan wakil rakyat itu diperebutkan untuk meraih kekayaan. Masyarakat sudah paham betul, setelah jabatan di tangan, janji tinggal janji dan slogan-slogan manis pun menguap tanpa bekas sejak hari pertama. Nama dan kepentingan rakyat diperalat demi kepentingan sendiri, parpol dan cukong yang mengongkosi. Tidak cukup, jabatan, kekuasaan dan pengaruh pun diperalat untuk secepat mungkin balik modal, tambah kekayaan dan memupuk modal. Korupsi, kolusi, manipulasi, rekayasa proyek dan sejenisnya pun mengisi berita harian. Itulah fakta ibarat mendorong mobil mogok. Ketika mobil berhasil hidup, orang yang mendorong pun ditinggalkan dan hanya diberi asap. Seperti itulah nasib rakyat selama ini. Ditambah lagi, seiring ketatnya persaingan berebut kursi, masyarakat dipikat dengan berbagai iming-iming, bantuan bahkan uang. Masyarakat akhirnya merasa, suaranya memiliki “harga” dan bisa dijual. Masyarakat merasa tidak mendapat manfaat yang semestinya dari para politisi. Masyarakat juga merasa selama ini hanya diperalat, dijadikan obyek dan komoditas politik bahkan alat tawar demi mendapat “harga” (baca manfaat finansial) tinggi. Maka ketika ada kesempatan, sebagian masyarakat pun menjadikan suaranya yang ber-“harga” untuk mendapat manfaat. Siapa pun yang datang memberikan uang akan diterima, tanpa peduli siapa sebenarnya yang didukung. Ungkapannya “kapan lagi mendapatkan uang dari para politisi kalau tidak pada momen pemilu?” Hal ini diangkat oleh Buletin Al-Islam edisi 697 dan dibedah dengan sangat baik oleh Ustadz Handoko dalam acara Bedah Buletin Al-Islam di Masjid Al-Muhtar ISI Yogyakarta, tanggal 20 Maret yang lalu. Silakan simak pemaparannya berikut ini. DOWNLOAD.mp3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: