Tinggalkan komentar

TOXIC SUCCESS (Kesuksesan yang Beracun) – Ust. Nopriadi Hermani,Ph.D

 Kajian bersama Ustad Dr Nopriadi Hermani Phd :

Dahulu di jazirah Arab ada zaman jahiliyah / kebodohan kemudian diselamatkan oleh Rasulullah dengan Islam. Dan Islam kemudian sukses selam 1400 tahun menata dunia. Kemudian setelah itu muncul kebangkitan eropa dimana sebelum itu mereka mengalami zaman kegelapan. yaitu zaman teokrasi dimana umat eropa dikala itu dikekang oleh aturan-aturan gereja dan kerajaan. Kemudian muncullah zaman modern seperti sekarang ini atau yang juga dikenal dengan era-globalisasi atau kapitalisme.

Kapitalisme membuat seluruh tujuan hidup manusia berporos pada satu titik yaitu materi. Inilah yang semakin membuat kehidupan di bumi ini semakin beracun, ibaratkan api yang di sirami dengan minyak. Karenanya manusia berlomba-lomba menuju materi hal ini semakin menyuburkan sifat-sifat buruk manusia seperti serakah, pelit, sombong, dll. Sebagaimana nasehat Rasulullah yang berbunyi :

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti dia menginginkan yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi ronggaga dada anak Adam (memuaskan keinginan) kecuali tanah (kematian), dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat” (HR Bukhari, Muslim)

Ini sepertinya sejalan dengan pandangan umum kapitalisme tentang manusia menurut Adam Smith yang notabene bukanlah umat Rasulullah:

“Manusia akan selalu bertindak demi mengejar kepentingan rasional sendiri, atau setidaknya mengejar apa yang diprediksi akan menguntungkannya”

Seberapa sulitkah bagi kita di zaman sekarang ini menemukan orang yang sukses dari segi materi tapi tidak terceminkan rasa bahagia dalam kehidupannya? Mudah karena banyak sekali. contohnya artis-artis terkenal yang bayarannya sungguh tinggi menjulang namun kehidupannya sesungguhnya kerap kali menuai kontroversi dari kasus perceraian, narkoba, perselingkuhan, saling sikut, saling menjatuhkan, dll seolah-olah tiada ujungnya.

Atau seorang intelektual tangguh yang telah menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk mendapatka keahlian tersebut. Kemudian ia dipekerjakan dengan bayaran ratusan juta namun dengan pekerjaannya itu dia menjadi sibuk dan tidak ada waktu lagi bagi dirinya sendiri walaupun materinya melimpah ia tidak bisa menikmati karena tuntutan kapitalisme. Maka tak jarang ketika para pelaku-pelaku yang sudah menggapai kesuksesan materinya. Seluruh kenikmatan di dunia pernah ia nikmati bekat meterinya hingga pada akhirnya ia mencapai titik kejenuhan dan stres seolah-olah materi itu tiada berguna sama sekali. Bahkan di jepang yang telah maju perkembangan ekonominya merupakan tempat yang tertinggi prosentase bunuh dirinya.

Kita bepayah-payah menghabiskan daya upaya hanya untuk materi yang hanya mampu kita bawa sekedar didunia saja tanpa pernah memikirkan tentang negeri akhirat. Hal ini diibaratkan dengan seorang raja yang sukses membangun istana megahnya namun ia letakkan di pinggir jurang yang sewaktu-waktu runtuh menjadi hancur tak berarti. Maka sangat tidak relevan bila kita hanya fokus pada usaha mencetak manusia yang mengabdi pada sukses materi. Apalagi kenyataanya banyak orang sukses yang hidupnya menderita. Semakin sukses, semakin menderita. Fenomena banyaknya orang sukses menderita ini terungkap dari hasil penelitian Dr. Paul Pearsall dalam bukunya Toxic Success (2002).

Untuk lebih jelasnya simak pemaparan Ustad Dr Nopriadi Hermani Phd dalam seri kajiannya “Toxic Sucses”. Dapat anda ikuti dalam rekaman berformat mp3 dengan meng-klik : DOWNLOAD.mp3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: