Tinggalkan komentar

Kaidah-kaidah Kulliyah

kaidah kulliyah

Kaidah kulliyah merupakan hukum syara yang bersifat kulli yang diungkapkan oleh para ulama dalam redaksi-redaksi tertentu yang disebut dengan qaidah atau jamaknya, al-qowa’id. Bagaimana kaidah-kaidah kulliyah hukum syara dalam khazanah Islam dapat lahir? Simak mp3 kajian dari Ustadz Titok Priastomo berikut ini :

Tinggalkan komentar

Riba, Apa & Bagaimana

RIBA CROP

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Qur’an surah Al-Baqarah: 275)

“Apabila zina dan riba telah tampak nyata dalam suatu kaum, maka mereka benar-benar  telah menghalalkan adzab Allah terhadap diri mereka”. (HR. Al-Hakim)

“Riba itu memiliki 73 pintu. Dosa riba yang paling ringan itu semisal dosa menyetubuhi ibu sendiri” (HR.Al-Hakim)

“Satu dirham riba yang dinikmati seseorang dalam keadaan ia mengetahuinya, dosanya lebih buruk daripada berzina 36 kali” (HR.Ahmad)

“Rasulullah melaknat pemakan riba, nasabah riba, juru tulisnya, dan dua saksinya. Nabi bersabda, “mereka semua sama” (HR.Muslim)

Beberapa nash syara’ diatas adalah indikasi yang menunjukkan haramnya riba, yaitu adanya celaan-celaan yang amat keras berupa ancaman Allah akan siksa-Nya. Riba merupakan dosa diantara dosa-dosa besar. Imam Adz-dzahabi menempatkan riba di no 10 dalam urut-urutan dosa besar yang ia tulis dalam Al-Kabaairnya. Di masa kini, riba tampaknya sangat umum di masyarakat kita. Mulai dari aktivitas utang, perkreditan, permodalan, perbankan, asuransi, hampir semuanya tak bisa bersih dari transaksi riba. Rasulullah bersabda :

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang (berusaha) tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya,” (HR. Ibnu Majah & Abu Dawud)

Apa itu riba, bagaimana suatu transaksi dapat dikatakan mengandung riba? Simak kajian dari Ustadz Titok Priastomo (Staf Pengajar Ma’had Hamfara) berikut ini:

 
Tinggalkan komentar

Metode Penentuan Idul Adha

penentuan idul adhaPenentuan Hari Raya Idul Adha adalah satu topik diantara banyak topik yang sering kita bahas secara berulang, terutama ketika terjadi perbedaan penentuan diantara jamaah kaum muslimin. Tahun 2014 ini, pemerintah Arab Saudi telah menetapkan bahwa ritual wukuf jamaah hajiyaitu bertepatan 9 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 3 Oktober 2014, yang artinya Hari Raya Idul Adha jatuh pada esok harinya, yaitu 4 Oktober 2014. Namun pemerintah di negeri ini menetapkan bahwa Idul Adha jatuh pada hari Ahad, 5 Oktober. Seandainya kita mampu menguasai bagaimana pemikiran dan hukum seputar metode penentuan idul Adha, maka tentu kita bisa bersikap secara benar.

Bagaimana metode yang syar’i dan rajih (kuat) untuk menentukan Hari Raya Idul Adha di negeri-negeri muslim. Simak kajian dan tanya jawab oleh Ustadz Abu Hanif, yang dilaksanakan di Masjid Al-Muhtar ISI Yogyakarta tanggal 30 Oktober 2014 berikut ini.

Simak pula Kajian Hukum-hukum Seputar Qurban oleh KH.M.Shiddiq Al-Jawi.

Tinggalkan komentar

Pria dan Wanita dalam Pergaulan Islami – Ust Titok Priastomo

Tinggalkan komentar

Demokrasi = Memilih Pemimpin?

Pendengar yang dirahmati Allah, dalam suasana pemilu presiden ini, demokrasi dikatakan sebagai aktivitas memilih pemimpin. Benarkah hanya sebatas demikian?
Mari simak perbincangan singkat berikut ini, mengenal wajah asli demokrasi, bersama Ustadzah Uyunul Ummah. Beliau adalah anggota Dewan Redaksi Maktabah Natiqoh I’lamiyyah Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

(untuk download, klik icon tanda panah di pojok kanan atas)

Tinggalkan komentar

Kultum : Hidayah (Ridwan Taufik Kurniawan)

Download | 3 Macam Hidayah.mp3 | 3Mb | 11 mnt
Dewasa ini kaum muslimin kebanyakan memandang hidayah (petunjuk) secara salah. Mereka menganggap hidayah sebagai sesuatu yang mistis. Sehingga mereka cendrung tidak / enggan memperbaiki diri mereka kepada jalan yang benar (Islam) karena mereka belum merasakan sesuatu yang mistis itu dialami oleh mereka. Pemahaman ini dapat menimbukan perassan frustasi bukan sebagai motivasi untuk memperbaiki diri.
Misal : Seorang artis baru datang dari Tanah Suci ia pulang dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya yaitu menggunakan hijab yang selumnya ia tidak mengunakannya. Ketika ia ditanya oleh wartawan yang penasaran.
wartawan  : Mbak, apakah anda akan tetap menggunakan hijab setelah ini ?
Artis       :  Sebenarnya saya ingin sih, tapi belumdapet hidayah.

Padahal yang namanya hidayah itu harus diperjuangkan bukan ditunggu-tunggu kehadirannya secara abai. Adapun 3 macam hidayah yang akan dibahas oleh saudara Ridwan Taufik :

1. Hidayatul Khalqi (Hidayah penciptaan)
Inilah hidayah yang telah Allah berikan ketika manusia itu lahir. Misalnya manusia memiliki Continue Reading »